Sistem QRIS ke Forum BRICS: Menteri Luar Negeri Sugiono Menawarkan Referensi
8 mins read

Sistem QRIS ke Forum BRICS: Menteri Luar Negeri Sugiono Menawarkan Referensi

panaindustrial – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menjadi sorotan internasional setelah menawarkan sistem pembayaran digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kepada negara-negara anggota BRICS. Langkah tersebut disampaikan dalam forum BRICS Foreign Ministers Meeting yang berlangsung di New Delhi, India, pada Mei 2026.

Dalam forum yang dihadiri para menteri luar negeri negara-negara BRICS tersebut, Sugiono mempromosikan QRIS sebagai contoh inovasi digital inklusif yang berhasil dikembangkan Indonesia. Menurutnya, sistem pembayaran nasional itu tidak hanya berhasil memperkuat transaksi digital domestik, tetapi juga mulai terhubung dengan sistem pembayaran lintas negara di kawasan Asia.

Usulan tersebut menandai langkah baru diplomasi ekonomi Indonesia. Untuk pertama kalinya, Indonesia secara terbuka menawarkan infrastruktur teknologi finansial nasional sebagai referensi bagi kerja sama ekonomi negara-negara berkembang dalam forum global besar seperti BRICS.

QRIS dari Indonesia untuk Dunia

QRIS merupakan sistem standar kode QR nasional yang dikembangkan Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Sistem ini diluncurkan pada tahun 2019 dengan tujuan menyatukan berbagai metode pembayaran digital dalam satu standar nasional.

Sebelum QRIS hadir, masyarakat sering menghadapi banyak jenis kode QR dari berbagai aplikasi pembayaran. Hal itu membuat transaksi menjadi tidak praktis. Dengan QRIS, seluruh aplikasi pembayaran digital dapat menggunakan satu standar yang sama sehingga transaksi menjadi lebih mudah dan efisien.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan QRIS berkembang sangat pesat. Sistem ini digunakan oleh jutaan pelaku UMKM, pusat perbelanjaan, restoran, hingga transportasi publik di Indonesia.

Menurut Sugiono, keberhasilan QRIS menunjukkan bahwa negara berkembang juga mampu membangun sistem teknologi finansial modern secara mandiri tanpa harus sepenuhnya bergantung pada sistem pembayaran global tradisional.

Di hadapan forum BRICS, Sugiono menyatakan Indonesia siap berbagi pengalaman mengenai implementasi QRIS sebagai model inovasi digital yang inklusif dan mudah diakses masyarakat luas.

Diplomasi Ekonomi Era Baru

Penawaran QRIS ke BRICS dinilai sebagai bagian dari transformasi diplomasi ekonomi Indonesia. Jika sebelumnya diplomasi lebih banyak berfokus pada perdagangan barang dan investasi, kini Indonesia mulai membawa produk teknologi finansial nasional ke panggung global.

Pemerintah melihat QRIS bukan sekadar alat pembayaran, melainkan simbol kemandirian ekonomi digital Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia memang aktif mendorong penguatan sistem pembayaran domestik. QRIS menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat inklusi keuangan dan mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembayaran asing.

Sugiono menyebut keberhasilan QRIS di dalam negeri telah membuktikan bahwa inovasi digital dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat lokal. Karena itu, pengalaman Indonesia dianggap relevan bagi negara-negara berkembang lain yang juga ingin membangun sistem pembayaran yang inklusif dan efisien.

Forum BRICS dipilih karena kelompok tersebut kini semakin aktif membangun alternatif kerja sama ekonomi global di luar dominasi sistem keuangan Barat.

BRICS dan Upaya Mengurangi Ketergantungan Sistem Finansial Tradisional

BRICS merupakan kelompok negara berkembang yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, serta sejumlah anggota baru termasuk Indonesia. Forum ini semakin berpengaruh dalam ekonomi global dan mendorong reformasi tata kelola ekonomi internasional.

Salah satu agenda penting BRICS dalam beberapa tahun terakhir adalah mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan global yang terlalu berpusat pada dolar Amerika Serikat.

Karena itu, negara-negara BRICS mulai mendorong penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam perdagangan internasional. Indonesia sendiri mendukung penuh inisiatif tersebut.

Dalam konteks ini, QRIS dianggap dapat menjadi solusi teknis untuk mempermudah transaksi lintas negara menggunakan mata uang lokal. Sistem pembayaran berbasis QR memungkinkan transaksi lebih cepat, murah, dan praktis dibanding mekanisme konvensional.

Sugiono menilai pengalaman Indonesia membangun konektivitas pembayaran lintas batas dengan sejumlah negara ASEAN dapat menjadi referensi bagi kerja sama BRICS yang lebih luas.

QRIS Sudah Digunakan Lintas Negara

BRICS

Salah satu kekuatan utama QRIS adalah kemampuannya mendukung transaksi lintas negara. Saat ini, sistem tersebut telah terkoneksi dengan beberapa negara mitra seperti:

  • Thailand
  • Malaysia
  • Singapura
  • Jepang
  • Tiongkok

Dengan sistem tersebut, wisatawan Indonesia di luar negeri dapat melakukan pembayaran menggunakan aplikasi domestik tanpa harus menukar uang tunai secara manual.

Sebaliknya, wisatawan asing dari negara mitra juga dapat melakukan pembayaran di Indonesia menggunakan sistem QR negara mereka masing-masing.

Pemerintah Indonesia melihat keberhasilan ini sebagai bukti bahwa sistem pembayaran nasional dapat bersaing di tingkat internasional. Sugiono bahkan menyebut QRIS sebagai bagian dari diplomasi ekonomi Indonesia untuk memperkuat posisi negara dalam sistem keuangan global.

Potensi Kerja Sama Digital Antarnegara BRICS

Jika kerja sama QRIS dan BRICS benar-benar berkembang, dampaknya bisa sangat besar bagi ekonomi negara-negara berkembang.

Dengan populasi gabungan BRICS yang mencapai miliaran penduduk, integrasi pembayaran digital berpotensi menciptakan ekosistem transaksi lintas negara yang sangat luas. Sistem pembayaran digital yang saling terhubung dapat memberikan berbagai keuntungan seperti:

  • Mempermudah perdagangan internasional
  • Mengurangi biaya transaksi
  • Mendorong UMKM masuk pasar global
  • Mengurangi ketergantungan pada sistem pembayaran asing
  • Memperkuat integrasi ekonomi negara berkembang

Banyak pengamat menilai langkah Indonesia menawarkan QRIS merupakan strategi cerdas untuk memperluas pengaruh ekonomi digital nasional. Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi global, tetapi mulai menawarkan model sistem finansialnya sendiri kepada dunia internasional.

Meski memiliki potensi besar, integrasi pembayaran digital lintas negara juga menghadapi banyak tantangan. Setiap negara memiliki:

  • Regulasi keuangan berbeda
  • Sistem keamanan digital berbeda
  • Infrastruktur teknologi yang tidak sama
  • Kebijakan perlindungan data masing-masing

Karena itu, membangun sistem pembayaran bersama di antara negara-negara BRICS tidak akan mudah.

Selain faktor teknis, ada pula tantangan geopolitik dan ekonomi global. Sistem pembayaran internasional selama ini masih sangat dipengaruhi jaringan keuangan Barat seperti SWIFT, Visa, dan Mastercard.

Namun munculnya berbagai sistem pembayaran nasional seperti QRIS menunjukkan bahwa negara-negara berkembang mulai mencari alternatif baru yang lebih mandiri dan sesuai kebutuhan mereka sendiri.

Bagi Indonesia, QRIS bukan hanya soal transaksi digital, tetapi juga bagian dari agenda besar kemandirian ekonomi nasional. Pemerintah dan Bank Indonesia ingin memastikan bahwa data transaksi masyarakat Indonesia tetap berada dalam sistem nasional dan tidak seluruhnya bergantung pada infrastruktur asing.

Langkah ini dianggap penting di era ekonomi digital ketika data menjadi aset strategis.

Selain itu, QRIS juga berperan besar dalam meningkatkan inklusi keuangan. Banyak pelaku usaha kecil yang sebelumnya sulit mengakses layanan perbankan kini dapat menerima pembayaran digital hanya dengan menggunakan kode QR sederhana. Hal tersebut membantu mempercepat transformasi digital UMKM di Indonesia.

Respons Positif dari Banyak Pihak

Penawaran QRIS ke forum BRICS mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai langkah tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan diri Indonesia di bidang teknologi finansial.

Selama ini, negara-negara berkembang sering dianggap hanya sebagai pasar teknologi. Namun kini Indonesia mulai tampil sebagai negara yang mampu menciptakan inovasi sendiri dan menawarkannya di tingkat global.

Para pengamat ekonomi juga melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi Indonesia memperkuat posisi di tengah perubahan geopolitik dunia.

Dengan menjadi bagian aktif dalam BRICS, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk memainkan peran penting dalam pembentukan sistem ekonomi global yang lebih multipolar.

Penawaran sistem QRIS oleh Menteri Luar Negeri Sugiono kepada forum BRICS menjadi langkah penting dalam diplomasi ekonomi digital Indonesia. QRIS tidak lagi sekadar sistem pembayaran domestik, tetapi mulai diposisikan sebagai model inovasi finansial yang dapat digunakan dalam kerja sama internasional.

Di tengah meningkatnya kebutuhan akan sistem pembayaran yang lebih inklusif dan mandiri, pengalaman Indonesia melalui QRIS dinilai relevan bagi negara-negara berkembang lain.

Langkah ini juga menunjukkan perubahan besar dalam cara Indonesia memandang perannya di dunia internasional. Indonesia kini tidak hanya menawarkan sumber daya alam dan pasar besar, tetapi juga teknologi, inovasi, dan model ekonomi digital yang dikembangkan sendiri.

Meski tantangan integrasi lintas negara masih besar, tawaran QRIS ke BRICS memperlihatkan ambisi Indonesia untuk menjadi pemain penting dalam masa depan sistem keuangan global.

Referensi

http://www.pombalinjecta.com/menlu-tawarkan-sistem-qris-ke-forum-brics/