Kinerja Sektor Manufaktur Indonesia Tertekan, Ini Penyebab dan Dampaknya Menurut Pengusaha
Kinerja sektor manufaktur Indonesia menghadapi tekanan setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026, dari 50,0 pada Mei. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani menyoroti melemahnya permintaan global di tengah ketidakpastian geopolitik sebagai salah satu faktor yang memengaruhi industri. Di sisi lain, tekanan biaya produksi, pelemahan permintaan domestik dan ekspor, kenaikan harga bahan baku, hingga gangguan rantai pasok turut menjadi tantangan yang dihadapi sektor manufaktur.
panaindustrial – Sektor manufaktur Indonesia sedang menghadapi situasi yang cukup challenging. Setelah sempat berada di ambang ekspansi pada Mei 2026, aktivitas manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi pada Juni. PMI Manufaktur Indonesia tercatat turun menjadi 46,9 dari posisi 50,0 pada bulan sebelumnya.
Dalam indikator PMI, angka di atas 50 secara umum menunjukkan ekspansi aktivitas manufaktur, sedangkan angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi. Dengan posisi 46,9, kondisi pada Juni menunjukkan adanya pelemahan aktivitas industri dibandingkan bulan sebelumnya. Situasi ini menjadi perhatian karena manufaktur memiliki keterkaitan dengan produksi, perdagangan, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja.
Tekanan tersebut ternyata tidak berasal dari satu faktor saja. Pelaku usaha menyoroti kondisi permintaan global, sementara pemerintah juga mencatat melemahnya permintaan domestik dan ekspor serta meningkatnya biaya yang harus ditanggung industri. Jadi, problem-nya cukup kompleks karena tekanan terjadi baik dari sisi demand maupun supply.
Pengusaha Ungkap Penyebab Kinerja Manufaktur Tertekan
Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani menilai kondisi permintaan global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja industri. Menurutnya, ketidakpastian yang berasal dari kondisi geopolitik berdampak terhadap demand global. Konflik dan ketidakpastian internasional membuat situasi perdagangan dan bisnis menjadi lebih challenging bagi dunia usaha.
Tekanan terhadap permintaan menjadi persoalan penting bagi perusahaan manufaktur karena produksi pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan pasar menyerap barang. Ketika pesanan melemah, perusahaan harus menyesuaikan volume produksinya agar persediaan tidak berlebihan. Kondisi tersebut kemudian dapat berpengaruh terhadap pembelian bahan baku, aktivitas operasional, hingga kebutuhan tenaga kerja.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga mengidentifikasi pelemahan permintaan sebagai salah satu penyebab kontraksi manufaktur pada Juni. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengatakan permintaan baru melemah, baik yang berasal dari pasar domestik maupun ekspor. Kondisi itu kemudian berdampak terhadap aktivitas produksi, pembelian bahan baku, dan penyerapan tenaga kerja.
Geopolitik Global Ikut Bikin Industri Ketar-ketir

Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu external factor yang perlu diperhitungkan sektor manufaktur. Konflik internasional dapat memengaruhi jalur perdagangan, biaya logistik, pasokan energi, ketersediaan bahan baku, hingga sentimen dunia usaha. Dampaknya dapat menjalar ke negara-negara yang terintegrasi dengan rantai pasok global, termasuk Indonesia.
Tekanan geopolitik sebenarnya sudah terlihat pada periode sebelumnya. S&P Global mencatat pada Maret 2026 bahwa responden surveinya melaporkan perang di Timur Tengah berdampak terhadap harga dan pasokan bahan baku, yang kemudian mengganggu permintaan serta produksi barang manufaktur. Pada periode tersebut, inflasi harga input juga meningkat hingga level tertinggi sejak Maret 2024.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada awal Juli juga mengaitkan kontraksi PMI manufaktur Juni dengan gangguan rantai pasok global akibat kondisi geopolitik. Gangguan tersebut berpotensi membuat proses mendapatkan bahan baku menjadi lebih mahal atau membutuhkan waktu lebih panjang. For manufacturers, perubahan seperti ini tentu dapat memberikan tekanan tambahan terhadap operasional.
Biaya Produksi Naik
Problem berikutnya datang dari cost of production. Kemenperin menyebut industri menghadapi kenaikan harga bahan baku impor yang berkaitan dengan pelemahan nilai tukar rupiah di tengah kondisi geopolitik global. Kenaikan biaya input tentu menjadi persoalan karena perusahaan harus menentukan apakah biaya tambahan akan diserap sendiri atau diteruskan ke harga jual.
Tekanan harga input juga terlihat dalam laporan mengenai PMI manufaktur Juni. Menurut Kemenperin, lonjakan biaya produksi dipengaruhi kenaikan harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar, sementara inflasi harga input tercatat sangat tinggi dibandingkan riwayat survei. Kondisi tersebut semakin challenging ketika perusahaan pada saat bersamaan menghadapi permintaan yang melemah.
Situasinya menjadi semacam double pressure bagi dunia usaha. Di satu sisi, perusahaan perlu menjaga harga agar produknya tetap kompetitif dan dapat diserap konsumen, tetapi di sisi lain biaya operasional mengalami peningkatan. Jika tekanan berlangsung lama, ruang perusahaan untuk menjaga margin sekaligus mempertahankan aktivitas produksi dapat menjadi semakin terbatas.
Ketika pasar ekspor sedang uncertain, pasar domestik idealnya dapat menjadi salah satu penopang aktivitas manufaktur. Namun, data Juni menunjukkan bahwa permintaan baru tidak hanya menghadapi tekanan dari luar negeri. Kemenperin menyatakan pelemahan juga terjadi pada permintaan dari pasar domestik.
Hal tersebut membuat daya beli masyarakat menjadi faktor penting untuk diperhatikan. Ketika konsumen menahan belanja, perusahaan dapat menghadapi penurunan pesanan sehingga produksi ikut disesuaikan. Efeknya kemudian dapat merambat ke berbagai bagian lain dalam rantai industri.
Karena itu, menjaga sektor manufaktur tidak hanya berkaitan dengan memberikan insentif langsung kepada perusahaan. Kebijakan yang berkaitan dengan konsumsi rumah tangga, stabilitas harga, investasi, perdagangan, dan daya beli juga memiliki hubungan dengan permintaan terhadap produk industri. Dengan kata lain, demand matters as much as production capacity.
Industri manufaktur modern sangat bergantung pada supply chain yang saling terhubung antarnegara. Sebuah produk yang dibuat di Indonesia bisa membutuhkan mesin, komponen, bahan baku, atau material pendukung yang berasal dari berbagai negara. Ketika salah satu jalur mengalami gangguan, efeknya dapat dirasakan sampai ke lantai produksi.
S&P Global pada Maret 2026 mencatat keterlambatan pengiriman pemasok merupakan yang paling tajam sejak Oktober 2021 pada saat itu. Konflik di Timur Tengah disebut oleh responden sebagai salah satu faktor yang memengaruhi harga dan ketersediaan bahan baku. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik dapat memiliki konsekuensi yang cukup konkret bagi industri.
Bagi perusahaan, keterlambatan material berarti jadwal produksi mungkin harus disesuaikan. Perusahaan juga dapat menghadapi kebutuhan untuk mencari supplier alternatif yang belum tentu menawarkan harga dan spesifikasi yang sama. Diversifikasi sumber bahan baku karena itu menjadi salah satu isu strategis dalam memperkuat resilience industri.
Tekanan Manufaktur Bisa Berdampak ke Tenaga Kerja
Ketika produksi dan pesanan mengalami pelemahan, ketenagakerjaan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Kemenperin menyebut melemahnya permintaan baru pada Juni berdampak pada penurunan aktivitas produksi, pembelian bahan baku, dan penyerapan tenaga kerja. Hubungan tersebut membuat perkembangan manufaktur penting bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi pekerja.
Perusahaan pada dasarnya akan menyesuaikan kapasitas produksinya dengan permintaan. Apabila permintaan terus menurun, perusahaan dapat mengurangi jam kerja, menahan ekspansi, membatasi perekrutan, atau melakukan berbagai efisiensi lainnya. Namun, keputusan setiap perusahaan tentu berbeda bergantung pada kondisi finansial, subsektor industri, serta prospek permintaan masing-masing.
Karena itu, indikator manufaktur sering diperhatikan untuk membaca kondisi perekonomian secara lebih luas. Perubahan aktivitas pabrik dapat berkaitan dengan permintaan bahan baku, transportasi dan logistik, perdagangan, serta kebutuhan tenaga kerja. Singkatnya, ketika manufacturing slows down, dampaknya berpotensi terasa di luar area pabrik.
Meski PMI Manufaktur S&P Global menunjukkan kontraksi pada Juni, terdapat indikator lain yang memberikan gambaran berbeda mengenai sektor industri. Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 51,43%, yang berarti masih berada dalam fase ekspansi. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan PMI-BI triwulan I 2026 sebesar 52,03%.
Bank Indonesia mencatat sejumlah komponen masih berada dalam fase ekspansi pada triwulan II, yaitu volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan volume total pesanan. Sejumlah subsektor juga mencatat ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri mesin dan perlengkapan, disusul makanan dan minuman, logam dasar, serta barang galian bukan logam.
Perbedaan indikator tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena PMI S&P Global dan PMI-BI berasal dari survei dan metodologi yang berbeda. PMI-BI merupakan indikator berbasis Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia, sedangkan PMI Manufaktur S&P Global merupakan survei tersendiri terhadap perusahaan manufaktur. Karena itu, kondisi manufaktur lebih tepat dilihat menggunakan beberapa indikator secara bersamaan daripada hanya satu angka.
Di tengah tekanan yang ada, Bank Indonesia masih mencatat ekspektasi ekspansi untuk triwulan III 2026. PMI-BI pada periode tersebut diprakirakan meningkat menjadi 52,32%, terutama didorong oleh volume produksi, persediaan barang jadi, dan total pesanan. Mayoritas subsektor juga diprakirakan tetap berada dalam fase ekspansi.
Namun, perkembangan aktual tetap akan bergantung pada berbagai faktor. Kondisi geopolitik, rantai pasok global, nilai tukar, harga bahan baku, permintaan ekspor, dan daya beli domestik menjadi beberapa variabel yang dapat memengaruhi aktivitas industri. Artinya, outlook bisa berubah apabila risiko global maupun domestik bergerak berbeda dari perkiraan.
Bagi dunia usaha, kondisi ini membuat efisiensi dan diversifikasi menjadi semakin relevan. Perusahaan dapat berupaya memperluas pasar, mencari alternatif pemasok, meningkatkan produktivitas, serta mengurangi ketergantungan terhadap sumber input tertentu. Pada level kebijakan, tantangannya adalah menciptakan kondisi yang mendukung daya saing tanpa mengabaikan stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Tekanan terhadap sektor manufaktur Indonesia pada pertengahan 2026 tidak datang dari satu arah. PMI Manufaktur S&P Global turun menjadi 46,9 pada Juni, sementara pengusaha menyoroti melemahnya demand global akibat ketidakpastian geopolitik. Pemerintah juga mencatat tekanan dari permintaan domestik dan ekspor, kenaikan biaya produksi, bahan baku, nilai tukar, serta gangguan rantai pasok.
Meski demikian, gambaran industri tidak sepenuhnya gloomy. PMI-BI menunjukkan industri pengolahan secara triwulanan masih berada di zona ekspansi pada triwulan II 2026, dengan indeks 51,43%, dan Bank Indonesia memprakirakan peningkatan pada triwulan III. Jadi, perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan industri dan kebijakan pemerintah menghadapi tekanan biaya, menjaga permintaan, serta beradaptasi dengan ketidakpastian global.
Referensi
- Bank Indonesia. Prompt Manufacturing Index (PMI) – BI Triwulan II 2026: Kinerja Industri Pengolahan Tetap Terjaga, 17 Juli 2026.
- Bank Indonesia. Prompt Manufacturing Index (PMI) – BI Triwulan I 2026: Kinerja Industri Pengolahan Meningkat, 17 April 2026.
- S&P Global. PMI Manufaktur Indonesia – Maret 2026, 1 April 2026.
- detikFinance. Pengusaha Ungkap Biang Kerok PMI Manufaktur RI Terjun ke Zona Kontraksi, 7 Juli 2026.
- detikFinance. PMI Manufaktur RI Masuk Zona Merah, Kemenperin Ungkap Penyebabnya, 1 Juli 2026.
- Bisnis.com. Airlangga Sebut Gangguan Rantai Pasok Jadi Biang Kerok PMI Manufaktur Kontraksi, 1 Juli 2026.
- ANTARA. Ekonom: Tekanan Biaya dan Permintaan Picu Penurunan PMI Manufaktur, 6 Mei 2026.